Dikepung Bencana, Terjepit Harga: Ketika Asap Mengepul dan Rakyat Kecil Harus Berhemat BBM

Ada masa ketika masyarakat hanya berharap satu hal sederhana: bisa menjalani hari dengan tenang.

Namun bagi sebagian masyarakat hari ini, ketenangan terasa seperti barang mewah. Di satu sisi, bencana datang silih berganti. Kebakaran hutan dan lahan menimbulkan kepulan asap, aktivitas gunung berapi mengancam permukiman, sementara di berbagai daerah masyarakat harus berhadapan dengan cuaca ekstrem dan berbagai dampak turunannya.

Di sisi lain, di tengah kepungan bencana itu, ada persoalan yang mungkin terlihat jauh lebih kecil tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan urat nadi kehidupan: kemampuan membeli bahan bakar untuk mencari nafkah.
Hal ini jadi pemandangan sehari hari khususnya di seputar tapal kuda.( Jember , Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi,Lumajang)
Beberapa malam ini saya menjumpai para masyarakat harus mendorong sepeda motornya karena kehabisan BBM.bukan tidak mampu membeli kata pak Kom (63th),warga desa curah dami yang sehari hari bekerja pakai Bentor.”saya dorong lumayan ini,mau pulang ke Curahdami,bukan gak bisa beli tapi uang mau beli gak ada,muatan sekarang sepi”,ucap pak Kom.
Andai malam itu pak Kom terus mendorong Bentornya dari daerah kota Bondowoso ke rumahnya di desa Curahdami,sekitar 7 kilometer,dan jalannya menanjak terus di lereng gunung Argopuro sisi timur.Kita yang masih mudapun akan kerepotan juga bila mendorong bentor( becak motor) menuju ke Curahdami.

Bagi sebagian orang, bensin mungkin hanya urusan mengisi tangki kendaraan. Tetapi bagi pedagang kecil, sopir angkutan, pengemudi ojek, kurir, nelayan, hingga pelaku UMKM, BBM adalah bagian dari modal kerja.

Kantor Berjalan

Mengikuti tren saat ini, karyawan bisa kerja di mana saja, atau kondang disebut Work from Anywhere.

Bukan hanya pekerja kantoran, banyak masyarakat yang menerapkan sistem kerja mobile. Untuk mendukung mobilitas warga, tentunya butuh pemantik, yaitu bahan bakar.

Contohnya, seorang pedagang membutuhkan motor untuk kulakan. Pengemudi ojek membutuhkan bensin untuk mendapatkan order. Sopir membutuhkan bahan bakar untuk mengantar penumpang atau barang. Pelaku UMKM membutuhkan kendaraan untuk mengambil bahan baku dan mengirim dagangan.

Nah, ketika harga atau akses terhadap bahan bakar minyak (BBM) menjadi beban, yang berkurang bukan sekadar isi tangki. Yang ikut berkurang adalah ruang untuk mencari penghasilan.

Ironinya semakin terasa ketika kita melihat fenomena di tengah masyarakat. Untuk situasi sekarang, kendaraan sudah seperti kantor berjalan.

Asap Mengepul vs Dapur Tak Ngebul

Contoh kasus terkini adalah hutan terbakar di Kalimantan dan asap mengepul tanpa meminta izin kepada siapa pun, termasuk ke negeri jiran, seperti Malaysia, Singapura atau Filipina.

Kemudian gunung meletus dan mengeluarkan abu tanpa harus membeli bahan bakar. Tetapi kondisi sebaliknya rakyat kecil justru harus berhitung lama sebelum memutuskan untuk mengisi tangki kendaraan mereka hanya untuk mendukung mobilitas demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Bahkan muncul ironi yang terdengar lucu sekaligus getir, yaitu ketika negeri sedang dikepung asap, ada kendaraan rakyat kecil yang justru tidak mengeluarkan asap karena pemiliknya tidak punya cukup uang untuk membeli BBM.

Sebenarnya, di balik kelucuan itu ada persoalan serius.

Kita sering berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, daya beli, produktivitas, dan pemberdayaan UMKM. Tetapi semua itu membutuhkan satu hal yang sederhana: mobilitas.

Bagaimana pedagang bisa meningkatkan omzet jika biaya pergi mengambil barang saja semakin berat?

Bagaimana pengemudi ojek bisa mengejar target harian jika sebagian besar pendapatan habis untuk bahan bakar?

Bagaimana UMKM bisa berkembang jika biaya distribusi terus menekan margin keuntungan?

Dan bagaimana keluarga berpenghasilan rendah bisa bertahan ketika biaya hidup meningkat sementara penghasilan tidak selalu ikut meningkat?

Persoalan BBM bagi masyarakat kecil sebenarnya bukan semata-mata persoalan energi. Ini adalah persoalan kesempatan untuk bekerja dan bertahan hidup.

Perlunya Kebijakan Pro Rakyat

Kebijakan mengenai BBM subsidi semestinya tidak hanya dilihat dari sisi siapa yang berhak menerima subsidi, tetapi juga dari sisi siapa yang paling membutuhkan mobilitas untuk mencari nafkah.

Tentu, subsidi harus tepat sasaran. Kebocoran dan penyalahgunaan harus diberantas. Pengawasan harus diperkuat. Namun jangan sampai dalam upaya menertibkan subsidi, masyarakat yang memang menggantungkan hidup dari kendaraan justru ikut kesulitan mendapatkan akses terhadap bahan bakar.

Sebab bagi masyarakat kecil, satu liter bensin bukan sekadar satu liter bensin. Seliter bensin bisa berarti beberapa orderan ojek.

Bisa pula berarti satu kali perjalanan mengantar barang, bisa untuk kulakan dagangan dan juga bisa berarti dapur tetap mengebul.

Dan di tengah berbagai bencana yang sudah menguras tenaga dan pikiran masyarakat, jangan sampai mereka harus menghadapi satu bencana tambahan: sulit bergerak karena tidak mampu membeli bahan bakar untuk bekerja.

Kita boleh membangun berbagai program besar. Kita boleh berbicara tentang transformasi ekonomi, ekonomi hijau, digitalisasi UMKM, dan peningkatan produktivitas.

Tetapi jangan lupa pada orang yang setiap pagi menyalakan motor atau mobil untuk mencari nafkah.

Jangan lupa pada pedagang yang mengangkut barang dagangan dengan motor yang sudah bertahun-tahun menjadi sandaran hidupnya.

Jangan lupa pada sopir yang pendapatannya bergantung pada berapa kilometer kendaraannya berjalan.

Dan jangan lupa pada UMKM kecil yang hidup dari selisih keuntungan yang kadang bahkan tidak seberapa.

Bencana alam memang tidak selalu bisa kita cegah. Tetapi beban yang harus ditanggung masyarakat akibat bencana dan tekanan ekonomi seharusnya bisa kita kelola dengan kebijakan yang lebih manusiawi.

Jangan sampai sebuah negeri yang sedang berusaha memadamkan api di hutan justru membuat rakyat kecil kesulitan menyalakan api agar dapur mereka tetap berproduksi.

Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya seberapa baik angka-angka ekonomi terlihat di atas kertas.

Tetapi apakah rakyat kecil masih mampu menyalakan motornya, berangkat bekerja, membawa pulang penghasilan, dan menghidupi keluarganya dengan tenang?

Jika jawabannya semakin sulit, mungkin sudah waktunya kita kembali melihat persoalan dari tempat yang paling sederhana, yaitu
dari balik jok motor rakyat kecil atau dari tangki kendaraan yang butuh BBM supaya bisa beroperasi untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

#M.IQBAL TEGUH SETIAWAN,Koordinator (Nasional) Lapangan ,Media Group Globalindo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *